Indonesia

Bung Karno: Saya Bukan Pencipta Pancasila

By

on

Universitas Gadjah Mada menganugerahi Bung Karno gelar Doktor Honoris Causa sebagai pencipta Pancasila. Namun, Si Bung enggan disebut pencipta Pancasila. Dia lebih nyaman disebut penggali Pancasila.

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

Siti Hinggil, Keraton Yogyakarta. Rabu, 19 September 1951.

Prof. Notonagoro yang ditunjuk Senator Universitas Gadjah Mada sebagai promotor membaca teks pidato pengukuhan.

Paduka yang mulia, Insinyur Soekarno, atas nama Senat Universitas Gadjah Mada berdasarkan atas kekuasaan yang tertinggi, yang diberikan kepadanya, sebagaimana tercantum dalam Statut Universitit tersebut, dalam Peraturan Pemerintah No.37 tahun 1950 pasal 2 ayat 2, dan putusan rapatnya, setelah dipertimbangkannya bahwa Paduka Yang Mulia dengan telah menciptakan Pancasila, yang merupakan dasar filsafat negara Republik Indonesia, amat berjasa dalam arti pasal 20 ayat 2 tersebut, kami mengangkat Paduka Yang Mulia menjadi doktor honoris causa dalam ilmu hukum, sehingga Paduka Yang Mulia memperoleh segala hak wajib serta kehormatan yang menurut hukum dan adat terlekat pada derajat itu.

Sebagai bukti tanda, Paduka Yang Mulia akan menerima dari Presiden Universitit surat tanda promosi honoris causa yang ditandatangani oleh Presiden Universitit dan Sekretaris Senat Universitit, dan dibubuhi lambang universitas serta dilekati meterai besar universitas.

Lembaran teks pidato yang dibacakan Prof. Notonagoro lumayan tebal. Hari itu, dia berpidato panjang lebar.

Disebutkannya pula, bahwa Soekarno sendiri dalam buku Lahirnya Pancasila ada mengatakan bahwa kata “sila” berasal dari petunjuk seorang teman ahli bahasa.

Akan tetapi, “Paduka Yang Mulia adalah yang untuk pertamakalinya melahirkan dan mengusulkan Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat pada hari tanggal 1 Juni 1945 dalm sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan.”

Begitu bunyi pidato Notonagoro di lembaran yang kesekian. Arsip dokumen pidato itu masih ada.

Kini, tiba gilaran Bung Karno. Dia naik podium. Mengedarkan pandangan. Dan lalu mulai menyapa…

Tuanku Presiden Universitet Gadjah Mada, tuanku promotor, tuan-tuanku para mahaguru, curator, sekalian tuan-tuan dan nyonya-nyonya…

Saudara-saudara…saya mengungucap terimakasih kepada Universitas Gadjah Mada atas kemurahan hatinya, memberikan kepada saya gelaran doktor honoris causa.

Tatkala beberapa waktu yang lalu oleh pihak Gadjah Mada diberitahukan kepada saya akan niatnya hendak memberikan gelaran itu kepada saya, dan ditanyakan kepada saya apakah saya mau menerimanya, maka sebenarnya buat sejurus waktu timbullah beberapa keraguan di dalam hati saya. Apakah pantas saya menerima predikat yang setinggi itu?

Saya bukan ahli pengetahuan. Saya bukan yang orang namakan “een geleerde”. Saya belum pernah menulis sesuatu buku yang pantas orang namakan satu prestasi wetenschap-pelijk.

Pandai pula Si Bung kita ini merendah. Merujuk arsip dokumen pidatonya hari itu, dia menerima gelar itu karena…

Saya lantas ingat kepada lain-lain orang, yang bukan orang-orang ahli pengetahuan, yang toh diberi dan mau menerima gelaran doktor honoris causa.
Saya, misalnya ingat kepada Ramsay Mac-Donald dan Ratu Wilhelmina. Kepada Herbert Hoover dan Ralph Bunch. Kepada Willem Drees dan Eduard Anseele…

Dari Siti Hinggil ke Siti Hinggil

Itulah untuk pertamakalinya UGM memberikan gelar doktor honoris causa kepada seseorang. Bung Karno pencipta Pancasila, dasar negara Indonesia.

Meski menerima gelar itu, Bung Karno sendiri berkali-kali mengatakan bahwa dia bukan pencipta Pancasila.

Dalam buku Bung Karno–Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams, Si Bung kembali mempertegas…

Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali tradisi kami jauh sampai ke dasarnya dan keluarlah aku dengan lima butir mutiara yang indah.

***

Tak lama usai pemilu pertama 1955, Liga Pantjasila meminta Presiden Soekarno memberikan kuliah umum tentang Pancasila.

“Saya diminta untuk memberi kursus mengenai Pancasila,” kata Bung Karno saat kuliah perdana di Istana Negara, Jakarta.

“Dan,” sambung Si Bung, “kursus tak dapat selesai dalam satu uraian. Karena itu akan diadakan kursus Pancasila ini beberapa kali.”

Kursus Pancasila diadakan sebanyak enam kali. Lima kali di Istana Negara, Jakarta.

Kursus penutup di Yogyakarta, pada 21 Februari 1958 melibatkan Senat Universitas Gajah Mada, yang memberinya gelar doktor honoris causa sebagai pencipta Pancasila tujuh tahun sebelumnya.

Tempatnya pun sama: Siti Hinggil, Keraton Yogyakarta.

Rangkaian kursus itu, diakui sebagai uraian paling lengkap tentang Pancasila.

“Sepanjang pengetahuan saya,” kata Sekretaris Jendral Komite Pusat Liga Pantjasila, Imam Pratignjo, 24 Agustus 1960, “belum pernah Bung Karno mengupas Pancasila selengkap seperti yang diamanatkan dalam kursus tersebut.”

Maka, kumpulan materi lengkap kuliah umum Bung Karno itu pun dibukukan dengan judul PANTJASILA—Dasar Filsafat Negara.

Sayang…buku yang diterbitkan pertamakali oleh Jajasan Empu Tantular, Djakarta pada 1960 tersebut tak ada lagi di pasaran. Keberadaan buku itu senyap seiring desoekarnoisasi ala Orde Baru, tempo hari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *